Apakah Setiap Orang Harus Melakukan Ruwatan? Atau Ketika Sedang Ada Masalah Saja?

0
28

Apakah Setiap Orang Harus Melakukan Ruwatan? Atau Ketika Sedang Ada Masalah Saja? – Warisan Budaya Jawa yang disebut Ruwatan ( Upacara Ruwatan ) telah tumbuh dan berkembang selama berabad – abad, yang tentu saja banyak mengalami proses perubahan sampai pada bentuk sekarang ini. Umumnya Upacara Ruwatan diselenggarakan dengan pergelaran Wayang yang sarat dengan pesan pendidikan budi pekerti dan spritual ditampilkan secara Simbolik dan Metafolik yang serba estetis. Pesan pendidikan itu merupakan hasil penghayatan para leluhur dalam hidup bermasyarakat serta perhubungannya dengan alam yang menjadi lingkungannya.

Penyampaian pesan – pesan secara Simbolik itu mepunyai tujuan agar nilai – nilai yang diungkapkan dapat terpelihara kelestariannya. Apabila pesan itu disampaikan secara lugas, niscaya penerimaannya tidak berbeda dengan informasi biasa dalam kehidupan sehari – hari, artinya sesudah pesan itu diterima oleh pendengarnya, maka selesailah fungsi pesan itu dan tidak mengesan di dalam hati.

Upacara Ruwatan dilaksanakan dalam suasana hening dan sakral. Yang disakralkan itu bukan benda – benda perlengkapan upacara ataupun tindakan simbolik para pelakunya, melainkan nilai – nilai yang terkandung didalamnya, itulah yang disakralkan.

Secara Rasional dapat diuraikan bahwa Ruwatan bertujuan untuk membersihkan jiwa anak sukerta dengan dibekali ajaran berbagai ajaran etika dan moral yang terungkap dalam upacara, dalam pergelaran wayang dalam makna Simbolik setiap perlengkapan termasuk sesaji.

Ruwatan bagi masyarakat Jawa adalah suatu bentuk usaha yang bertujuan agar kelak setelah menjalani ruwatan mendapatkan berkah berupa keselamatan, kesehatan, kedamaian, ketentraman jiwa, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi diri sendiri secara khusus maupun bagi keluarga dalam lingkup yang lebih besar lagi.

Orang Yang perlu di ruwat

Berdasarkan atas kepercayaan dan tradisi jawa sejak jaman dahulu anak atau orang sukerta perlu diruwat dibebaskan dari malapetaka ancaman dimakan Batarakala. Ketentuan anak atau orang sukerta terdapat di dalam berbagai kitab jawa antara lain :
Di dalam Serat Centhini yang penulisannya diprakarsai oleh putra mahkota surakarta   ( kemudian bertahta menjadi Sri Pakubuwana V ) yang disusun oleh beberapa orang Pujangga pada tahun 1814 M Jilid 2 edisi huruf latin terbitan Yayasan Centhini Yogyakarta halaman 296-298 di sebutkan bahwa anak sukerta ialah :

a. Ontang-anting         : anak tunggal, lelaki.
b. Anting-anting           : anak tunggal, perempuan.
c. Uger-uger lawang    : dua orang anak, lelaki semua.
d. Kembang sepasang : dua orang anak, perempuan semua.
e. Gedhana-gedhini     : dua orang anak, lelaki dan perempuan, yang tua si lelaki.
f. Gedhini-gedhana      : dua   orang   anak,   perempuan  dan  lelaki,  yang  tua  si    perempuan.
g. Pandhawa                : Lima orang anak, lelaki semua, tidak diseling wanita.
h. Pendhawa Ngayomi  : Lima orang anak perempuan semua.
i. Pendhawa Madangake  :    Lima orang anak, empat orang lelaki dan seorang perempuan.
j. Pandhawa apil-apil     : lima orang anak, empat orang perempuan dan seorang lelaki.
k. Bathang angucap      : orang berjalan seorang diri di waktu tengah hari, tanpa bersumping daun ( diatas telinganya ), tidak berdendang ( ngidung ) dan tidak makan sirih ( mucang ).
l. Jisim Lumaku               : dua orang berjalan di waktu tengah hari, tanpa bersumping, tidak berdendang dan tidak makan sirih.
m. Ontang-anting lumunting tunggaking aren    :  orang yang tak ada  saudaranya  ( anak  tunggal )  sejak lahirnya, di tengah-tengah dua alisnya terdapat titik putih, sedang mukanya pucat pasi.
        
Batara Guru lalu memberikan senjata badama (golok, parang) kepada Batara Kala agar digunakan membunuh orang yang menjadi jatahnya, baru kemudian boleh dimakannya. Kepada Batara Penyarikan diberikan tugas mengikuti Batara Kala untuk mencatat cara Batara Kala memakan orang yang menjadi jatahnya.
Batari Uma memberi jatah harapan( Pengayam-ayam, jw ) yakni anak atau orang yang disebut :

1. Tiba-sampir    :    bayi lahir pada waktu di desanya sedang ada pertunjukan wayang kulit tidak diserahkan kepada Ki Dalang. Bilamana si bayi diserahkan kepada Ki Dalang, ia menjadi saudara Batara Kala.

2. Mancah    :    orang yang menghalangi Batara Kala mencari makan orang yang menjadi jatahnya.

Itulah wawasan tentang ruwatan pada zaman terdahulu. Ruwatan ini memiliki fungsi dan manfaat yang banyak sekali. Berikut penjelasan Ki Joko ketika di tanya Apakah Setiap Orang Harus Melakukan Ruwatan? Atau Ketika Sedang Ada Masalah Saja? silahkan simak penjelasan beliau di bawah ini:

 

 41 total views,  2 views today